Bank Jambi Dinilai Punya Modal Kuat Kelola Payroll ASN, Bisa Dongkrak Dana Murah dan Transaksi
Jambiline.com – Bank Jambi dinilai memiliki kapasitas yang cukup untuk mengelola payroll Aparatur Sipil Negara (ASN) di Provinsi Jambi. Jika dikelola secara optimal, payroll ASN bahkan dapat menjadi salah satu penggerak utama untuk memperkuat bisnis dan ekosistem transaksi bank daerah tersebut.
Pengamat perbankan Laila Farhat, S.E., M.M. mengatakan, payroll tidak sebatas layanan untuk menyalurkan gaji ASN. Di balik arus dana yang masuk setiap bulan, terdapat peluang besar bagi Bank Jambi untuk memperkuat dana pihak ketiga (DPK), meningkatkan transaksi dan memperluas hubungan dengan nasabah.
“Bank Jambi secara kapasitas memiliki kemampuan untuk mengelola payroll ASN. Dari perspektif perbankan, payroll merupakan bagian dari transaction banking yang memberikan kontribusi terhadap penghimpunan DPK, peningkatan aktivitas rekening dan pengembangan ekosistem nasabah,” ujar Laila di Jambi, Senin (14/9/2026).
Menurut Laila, dana payroll memiliki keunggulan karena masuk secara rutin dan kemudian bergerak melalui berbagai aktivitas transaksi. ASN menggunakan rekening tersebut untuk membayar kebutuhan sehari-hari, melakukan transfer, membayar tagihan, bertransaksi secara digital hingga menggunakan fasilitas pembiayaan.
Kondisi itu membuat satu rekening payroll berpotensi berkembang menjadi hubungan perbankan yang lebih luas.
“Nilai payroll tidak berhenti pada saldo rekening. Yang lebih penting adalah transactional relationship dengan nasabah. Dari satu rekening payroll dapat dikembangkan berbagai produk dan layanan, sehingga meningkatkan customer lifetime value bagi bank,” jelasnya.
Peluang Besar Perkuat Dana Murah
Laila menilai Bank Jambi juga dapat memanfaatkan basis payroll untuk memperkuat struktur pendanaannya. Salah satu peluangnya ialah meningkatkan porsi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA).
Semakin besar porsi CASA, kata dia, semakin efisien struktur pendanaan bank. Kondisi tersebut juga dapat membantu menekan cost of fund sehingga bank memiliki ruang yang lebih baik untuk menjalankan fungsi intermediasi.
“Bank tentu berkepentingan meningkatkan CASA karena semakin kuat dana murah, semakin baik efisiensi struktur pendanaan dan semakin kompetitif cost of fund. Ini kemudian memberikan ruang bagi bank untuk menjalankan fungsi intermediasi secara lebih optimal,” katanya.
Namun, Laila mengingatkan Bank Jambi agar tidak hanya mengejar besarnya dana yang masuk. Bank harus mengelola dana payroll dengan prinsip kehati-hatian dan memastikan kecukupan likuiditas tetap terjaga.
Dana payroll, menurutnya, tidak otomatis dapat seluruhnya disalurkan menjadi kredit. Bank tetap harus memperhitungkan liquidity buffer, kualitas aset, risiko kredit serta profil jatuh tempo aset dan liabilitas.
“Prinsipnya tetap prudential banking. Dana yang dihimpun harus dikelola dengan memperhatikan likuiditas, kualitas aset, risiko kredit dan ketentuan regulator. Jadi payroll memberikan kontribusi terhadap funding stability, tetapi pengelolaannya harus tetap berbasis manajemen risiko,” tegas Laila.
Dari Gaji ASN ke Pembiayaan Produktif
Sebagai bank pembangunan daerah, Bank Jambi memiliki peluang untuk mengubah kekuatan funding dari payroll menjadi pembiayaan yang memberikan dampak lebih luas bagi perekonomian daerah.
Laila mengatakan, dana yang dihimpun dari ekosistem payroll dapat mendukung fungsi intermediasi Bank Jambi, termasuk pembiayaan sektor produktif dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
“BPD memiliki mandat strategis untuk menjadi regional financial intermediary. Karena itu, penguatan funding melalui payroll harus dapat dikonversi menjadi intermediasi yang berkualitas, bukan sekadar pertumbuhan neraca,” ujarnya.
Di sisi lain, Bank Jambi juga dapat memperluas layanan kepada nasabah payroll melalui strategi cross selling. Rekening payroll dapat menjadi pintu masuk untuk menawarkan tabungan, kartu debit, layanan digital, kredit multiguna, kredit konsumtif maupun berbagai produk pembiayaan lainnya.
Strategi tersebut berpotensi meningkatkan pendapatan berbasis komisi atau fee based income sekaligus membuat nasabah semakin terikat dengan ekosistem Bank Jambi.
“Ketika payroll berada dalam satu ekosistem bank, peluang cross selling dan deepening relationship jauh lebih besar. Bank tidak hanya menjadi tempat masuknya gaji, tetapi menjadi main banking relationship bagi nasabah,” kata Laila.
Keamanan Digital Tak Boleh Diabaikan
Meski melihat peluang besar dari pengelolaan payroll ASN, Laila menekankan bahwa Bank Jambi harus memastikan seluruh infrastrukturnya mampu menopang layanan tersebut secara aman dan andal.
Menurutnya, sejumlah indikator harus menjadi perhatian, mulai dari keandalan sistem pembayaran, kualitas layanan, keamanan transaksi, kesiapan teknologi digital, pengelolaan likuiditas, tata kelola hingga kualitas aset.
“Kalau seluruh parameter tersebut dapat dipenuhi, maka secara kapasitas Bank Jambi layak dipercaya mengelola payroll ASN,” ujarnya.
Ia juga mendorong Bank Jambi terus memperkuat teknologi dan keamanan siber. Menurutnya, kepercayaan ASN sebagai nasabah payroll sangat bergantung pada kemampuan bank menjaga keamanan dana dan memastikan transaksi berjalan lancar.
“Yang terpenting adalah bank terus melakukan continuous improvement terhadap teknologi, layanan, keamanan siber dan tata kelola,” katanya.
Laila melihat payroll ASN dapat menjadi strategic funding anchor bagi Bank Jambi. Dengan basis nasabah yang kuat dan transaksi yang berlangsung secara rutin, payroll dapat membantu bank memperdalam penetrasi pasar sekaligus membangun ekosistem keuangan daerah.
“Bank Jambi harus melihat payroll sebagai strategic asset dalam membangun ekosistem perbankan daerah. Tantangannya adalah bagaimana funding base tersebut kemudian menghasilkan intermediasi yang sehat, peningkatan transaksi, fee income dan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah,” pungkasnya.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.


