1 Bulan Layanan Bank Jambi Belum Pulih, YLKI Desak Gubernur Al Haris Evaluasi Menyeluruh
WIBNews.com – Krisis kepercayaan tengah menghantam Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jambi. Pasca insiden pembobolan sistem yang menguapkan dana nasabah sebesar Rp143 miliar pada Februari lalu, bank plat merah ini tak kunjung pulih.
Alih-alih memberikan solusi cepat, layanan perbankan justru masih “sekarat”, memicu gelombang kecaman dari netizen dan sorotan tajam dari lembaga konsumen.
Hingga Senin (6/4/2026), fasilitas vital seperti Mobile Banking (M-banking) dan mesin ATM Bank Jambi dilaporkan masih sering mengalami gangguan atau bahkan tidak dapat digunakan sama sekali.
Akibatnya, pemandangan antrean panjang yang membludak di kantor-kantor cabang menjadi pemandangan harian yang menyesakkan.
Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Jambi, Ibnu Kholdun, menyayangkan lambannya penanganan dari manajemen Bank Jambi. Menurutnya, hak nasabah untuk mendapatkan layanan yang aman dan nyaman telah terabaikan selama hampir satu bulan.
“Sampai sekarang belum ada kejelasan. Sudah satu bulan nasabah menjerit kesulitan transaksi, antrean membludak. Mau sampai kapan pelayanan seperti ini?” ujar Ibnu Kholdun dengan nada geram, Senin (6/4).
Gubernur Diminta Bertindak Tegas
YLKI Jambi secara resmi mendesak Gubernur Jambi, Al Haris, selaku pemegang saham kendali, untuk tidak tinggal diam. Ibnu menegaskan bahwa masalah ini bukan sekadar gangguan teknis biasa, melainkan ancaman terhadap marwah daerah.
YLKI meminta kepada Gubernur Jambi, Al Haris untuk segera melakukan beberapa hal berikut:
1. Evaluasi Menyeluruh: Melakukan audit dan evaluasi total terhadap seluruh jajaran direksi Bank Jambi.
2. Pertanggungjawaban: Direksi harus bertanggung jawab penuh atas kelalaian sistem yang merugikan nasabah.
3. Transparansi Hukum: Meminta pihak kepolisian mengusut tuntas aliran dana dan menangkap dalang di balik peretasan.
“Gubernur jangan anggap masalah ini enteng! Segera ambil tindakan. Ini masalah besar, mereka (direksi) harus mempertanggungjawabkan masalah ini,” tegas Ibnu.
Jejak Digital ke Aset Kripto
Mengingat kembali kronologi kejadian, Bank Jambi lumpuh total sejak peretasan besar pada 22 Februari 2026. Kerugian fantastis senilai Rp143 miliar menjadi pukulan telak bagi stabilitas keuangan daerah.
Gubernur Al Haris sebelumnya mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa dari total dana yang hilang, sekitar Rp19 miliar telah teridentifikasi mengalir ke aset mata uang kripto (crypto), sebuah instrumen yang dikenal sulit dilacak dan sangat fluktuatif.
Krisis Kepercayaan di Media Sosial
Pantauan di berbagai platform media sosial menunjukkan kemarahan netizen Jambi yang tak terbendung. Tagar terkait kegagalan layanan Bank Jambi terus bermunculan. Nasabah merasa menjadi sandera di bank sendiri karena sulitnya mengakses uang mereka untuk kebutuhan sehari-hari.
Hingga berita ini diturunkan, Direktur utama Bank Jambi, Khairul belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi media ini.***

