Bank Jambi dan Makna Kemerdekaan : Perkuat Ekonomi Rakyat Lewat Akses Pembiayaan
WIBNews.com – Bank Jambi dinilai memiliki posisi strategis dalam menerjemahkan makna kemerdekaan ke dalam pembangunan ekonomi daerah.
Sebagai Bank Pembangunan Daerah (BPD), Bank Jambi diharapkan tidak hanya menjalankan fungsi intermediasi perbankan, tetapi juga semakin aktif mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui pembiayaan produktif dan inklusif.
Pengamat perbankan Laila Farhat, mengatakan kemerdekaan dari perspektif ekonomi tidak sebatas terbebas dari penjajahan, tetapi juga menyangkut kesempatan masyarakat untuk tumbuh, berkembang, dan meningkatkan kesejahteraan.
Menurutnya, akses terhadap pembiayaan yang mudah, tepat sasaran, dan sesuai kebutuhan menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong masyarakat mengembangkan usaha, meningkatkan pendapatan, serta memperluas aktivitas ekonomi.
“Perbankan tidak hanya menghimpun dana masyarakat, tetapi juga memiliki tanggung jawab menyalurkannya kembali ke sektor-sektor produktif,” ujar Laila.
Ia menilai posisi Bank Jambi semakin penting karena karakteristik perekonomian daerah membutuhkan dukungan pembiayaan yang mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat, khususnya pelaku UMKM, petani, sektor perkebunan, perdagangan, jasa, dan usaha produktif lainnya.
Peran tersebut menjadi semakin relevan di tengah perekonomian Jambi yang pada triwulan I 2026 masih mencatat pertumbuhan sebesar 4,33 persen secara tahunan. Menurut Laila, pertumbuhan tersebut perlu ditopang oleh ekosistem pembiayaan yang mampu menjaga aktivitas usaha sekaligus membuka lebih banyak peluang ekonomi bagi masyarakat.
Penyaluran kredit kepada sektor produktif, lanjutnya, dapat memberikan efek berantai terhadap perekonomian. Ketika pelaku usaha memperoleh tambahan modal, kapasitas produksi dapat meningkat, lapangan kerja bertambah, pendapatan masyarakat tumbuh, dan perputaran ekonomi semakin luas.
Karena itu, Laila mendorong Bank Jambi terus memperkuat perannya sebagai bagian dari ekosistem pembangunan ekonomi daerah dengan menghadirkan pembiayaan yang produktif, inklusif, dan sesuai dengan karakteristik masing-masing sektor.
Semangat kemerdekaan juga dinilai perlu diwujudkan melalui peningkatan inklusi keuangan. Masyarakat, kata Laila, jangan hanya ditempatkan sebagai pengguna layanan perbankan, tetapi juga didorong menjadi pelaku ekonomi produktif yang mampu mengembangkan usaha, mengelola keuangan, dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Transformasi digital menjadi salah satu instrumen yang dapat dimanfaatkan untuk memperluas akses layanan keuangan. Digitalisasi perbankan dinilai mampu mempermudah masyarakat dalam melakukan transaksi sekaligus membuka akses layanan keuangan secara lebih luas dan efisien.
Namun, digitalisasi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pembiayaan UMKM dan penguatan literasi keuangan. Menurut Laila, pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan akan membantu mereka mengambil keputusan pembiayaan secara lebih bijak.
Ia juga menekankan pentingnya kedekatan bank daerah dengan masyarakat. Setiap sektor memiliki karakteristik dan kebutuhan pembiayaan yang berbeda sehingga diperlukan pendekatan yang sesuai dengan kondisi pelaku usaha.
Ketika UMKM memperoleh modal, petani mendapatkan akses pembiayaan, pedagang mampu memperluas usaha, dan masyarakat semakin mudah memperoleh layanan keuangan, maka makna kemerdekaan dapat dirasakan secara lebih nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Meski demikian, Laila mengingatkan agar ekspansi pembiayaan tetap dilakukan dengan prinsip kehati-hatian. Pertumbuhan kredit yang tinggi tidak boleh mengorbankan kesehatan dan keberlanjutan bank.
Menurutnya, ekspansi kredit harus berjalan seimbang dengan kualitas aset, penguatan manajemen risiko, tata kelola perusahaan, efisiensi operasional, serta kemampuan melakukan pemulihan kredit.
“Semangat kemerdekaan bukan berarti mengejar pertumbuhan tanpa batas. Justru yang dibutuhkan adalah membangun fondasi perbankan yang sehat, kuat, dan prudent,” jelasnya.
Bank yang sehat, efisien, memiliki tata kelola yang baik, serta mendapatkan kepercayaan masyarakat akan memiliki kemampuan lebih besar dalam menjalankan fungsi intermediasi secara berkelanjutan.
Laila melihat peluang Bank Jambi untuk semakin memperkuat kontribusinya sebagai penggerak ekonomi daerah masih terbuka lebar. Salah satunya melalui pembiayaan sektor produktif yang memiliki basis masyarakat luas.
Hal tersebut tercermin dari kebutuhan pembiayaan produktif di Provinsi Jambi. Data penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Mei 2026 tercatat mencapai **Rp3,42 triliun kepada 35.744 debitur**, dengan sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang memberikan kontribusi dominan.
Angka tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap pembiayaan untuk menjaga keberlangsungan usaha sekaligus meningkatkan kapasitas ekonomi daerah.
Kondisi itu sekaligus menjadi peluang bagi Bank Jambi untuk memperluas kontribusi melalui produk pembiayaan yang kompetitif dan tepat sasaran, dengan tetap memperhatikan kemampuan serta profil risiko debitur.
Laila berharap kiprah Bank Jambi dalam mengisi kemerdekaan dapat terus berjalan searah dengan agenda pembangunan daerah dan kebutuhan masyarakat Jambi.
Menurutnya, Bank Jambi perlu semakin kompetitif menghadapi dinamika industri jasa keuangan, namun tetap mempertahankan karakter sebagai bank daerah yang memiliki keberpihakan terhadap pembangunan ekonomi lokal.
Keberhasilan Bank Jambi, kata Laila, seharusnya tidak hanya dilihat dari pertumbuhan aset, laba, atau perkembangan bisnis semata. Lebih jauh, keberhasilan tersebut perlu diukur dari seberapa besar manfaat yang diberikan kepada masyarakat melalui akses pembiayaan dan layanan keuangan.
Masyarakat yang semakin mudah memperoleh modal, mampu mengembangkan usaha secara produktif, mandiri secara ekonomi, dan mengalami peningkatan kesejahteraan merupakan salah satu indikator nyata keberhasilan perbankan daerah.
Dengan demikian, makna kemerdekaan bagi Bank Jambi tidak berhenti pada peringatan seremonial setiap 17 Agustus. Semangat tersebut dapat diterjemahkan melalui kerja ekonomi yang berkelanjutan dengan memperluas akses pembiayaan, meningkatkan literasi keuangan, memperkuat digitalisasi, serta menjaga kualitas dan kesehatan bisnis perbankan.
Sebagai BPD, Bank Jambi memiliki posisi penting untuk terus menjadi mitra pembangunan daerah sekaligus memperkuat fungsi intermediasi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi regional.
Pada akhirnya, kemerdekaan ekonomi bukan sekadar kemampuan untuk berdiri sendiri, tetapi juga kesempatan bagi masyarakat Jambi untuk tumbuh, mengembangkan usaha, meningkatkan produktivitas, dan membangun masa depan yang lebih sejahtera.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.


