Demi Sekantong Sembako, Ibu di Tapanuli Tengah Berjalan Kaki Sembilan Jam Menembus Pascabanjir

Tangkapan layar seorang warga Tapanuli Tengah yang harus berjalan sembilan jam untuk mendapat bantuan pascabanjir. (TikTokApa Aja)

– Di tengah hamparan kerusakan akibat banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, seorang ibu di Tapanuli Tengah menunjukkan perjuangan luar biasa demi mempertahankan kehidupan keluarganya.

Ia memilih berjalan kaki selama sembilan jam, menembus medan pascabencana yang berat, hanya untuk membawa pulang bantuan logistik.

Kisah heroik sekaligus memilukan ibu di Tapanuli ini terekam dalam sebuah video amatir yang diunggah akun TikTok @apa aja pada Sabtu, 20 Desember 2025.

Dalam rekaman tersebut, sang ibu terlihat memanggul bantuan sembako di pundaknya sambil terus melangkah menyusuri jalanan yang rusak.

Kondisi akses jalan yang terputus dan sulit dilalui kendaraan memaksa warga mengandalkan kekuatan fisik mereka. Dengan napas terengah namun tetap berusaha tegar, wanita tersebut merekam sendiri perjalanan pulangnya menuju rumah.

“Terima kasih buat sembakonya,” ucapnya dengan nada penuh syukur.

Ia kemudian menjelaskan betapa jauhnya jarak yang harus ia tempuh demi membawa bantuan tersebut ke kampung halamannya.

Bagi sebagian orang, sembilan jam mungkin hanya waktu tempuh perjalanan jauh, namun baginya, durasi itu menjadi harga yang harus dibayar demi memperoleh sekantong sembako.

“Kami sudah perjalanan pulang, semoga tidak hujan ya,” lanjutnya.

Meski kelelahan jelas terlihat di wajahnya, wanita ini terus memotivasi dirinya dan warga lain yang mengalami nasib serupa. Ia mengandalkan tenaga dan doa sebagai modal utama agar dapat tiba di tujuan dengan selamat.

“Kami butuh tenaga. Untuk perjalanan, kami butuh waktu sembilan jam. Semangat,” katanya sambil menguatkan diri.

Di akhir video, ia menyampaikan permohonan tulus kepada siapa pun yang menyaksikan rekaman tersebut. Ia menyadari risiko perjalanan di wilayah pascabencana masih mengintai, mulai dari jalan licin hingga potensi longsor susulan.

“Doakan semoga perjalanan kami aman-aman, tidak ada bahaya,” tuturnya.

Kisah ini menjadi gambaran nyata betapa beratnya distribusi bantuan di daerah terpencil pascabencana, ketika satu paket sembako harus ditebus dengan perjalanan kaki berjam-jam dan perjuangan tanpa kenal lelah.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *