Tak Sanggup Pakai Cangkul, Warga Aceh Timur Rogoh Jutaan Rupiah Sewa Alat Berat demi Bersihkan Lumpur

Warga di Aceh Timur harus menggunakan alat berat untuk bersihkan lumpur yang mengendap di rumahnya. (Instagrambg_dosen)

 – Memasuki bulan kedua pascabanjir bandang yang menerjang wilayah Sumatera pada akhir November 2025, perjuangan para penyintas di Aceh Timur belum usai. Tantangan terberat saat ini bukanlah air, melainkan endapan lumpur pekat yang menimbun pemukiman warga.

Ketebalan lumpur yang ekstrem memaksa warga mengambil langkah drastis. Manual menggunakan tenaga manusia tak lagi memadai, sehingga penggunaan alat berat menjadi pilihan terakhir meski harus merogoh kocek pribadi.
Biaya Sewa Alat Berat yang Menguras Kantong.

Seorang warga di Desa Blang Gleum, Kecamatan Julok, menceritakan beratnya beban biaya yang harus ditanggung demi memulihkan rumahnya. Ia terpaksa menyewa ekskavator (beko) karena tumpukan lumpur di sekitar rumahnya masih setinggi pinggang orang dewasa.

“Sewa beko itu satu jam Rp600 ribu. Kemarin kami pakai selama dua jam, jadi total habis Rp1,2 juta hanya untuk mengeruk lumpur saja,” ungkapnya melalui unggahan di media sosial, Sabtu (3/1/2026).

Uang tersebut diakuinya didapat dari bantuan kerabat yang berada di luar daerah. Menurutnya, mustahil mengandalkan cangkul untuk membersihkan material sisa banjir bandang tersebut. “Nggak mungkin bersih kalau cuma pakai cangkul,” keluhnya.

Akses Jalan Masih Terisolasi Lumpur

Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi Desa Blang Gleum masih memprihatinkan. Meski sebagian area sudah dikeruk, sisa-sisa air banjir masih menggenang dan membuat jalanan desa menjadi sangat licin dan sulit dilalui.

Perubahan memang mulai terlihat setelah alat berat dikerahkan secara mandiri oleh warga, namun volume lumpur yang luas masih menutupi sebagian besar akses publik di perkampungan tersebut.

Data Kerusakan dan Rencana Huntara

Bencana banjir ini menyisakan kerusakan infrastruktur yang masif di Kabupaten Aceh Timur. Berikut adalah data terkini berdasarkan catatan Pemerintah Kabupaten:
Kategori Kerusakan Rumah

  • Rusak Berat | 5.171 unit
  • Rusak Sedang | 5.294 unit
  • Rusak Ringan | 1.426 unit |

Saat ini, sekitar 8.000 warga dari 22 kecamatan masih bertahan di posko pengungsian karena rumah mereka belum layak huni. Sebagai solusi jangka pendek, pemerintah setempat berencana membangun Hunian Sementara (Huntara) dengan target awal sebanyak 1.000 unit bagi warga terdampak paling parah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *